Al-Quran, Puasa dan Essensi Taqwa

MI, 21/11/03

Umat Islam di seluruh dunia kembali menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kalau kita perhatikan, di bulan ini ada tiga terminologI agama yang sering muncul dibicarakan baik oleh kalangan muslim scholars (ulama) dalam pengajian-pengajian, ataupun masyarakat kebanyakan dalam diskursus sehari-hari. Ketiga terminologi itu adalah Al Quran, puasa (shaum) dan taqwa.

Mengapa ketiga terminologi itu sering muncul dalam berbagai diskursus kajian ramadhan? Tidak bisa dipungkiri bahwa ketiga term ini mempunyai hubungan yang saling mendukung satu sama lain. Bukankah Al Quran sebagai firman Tuhan jelas diturunkan pada bulan puasa? Sementara berpuasa diwajibkan karena ada firman Tuhan dalam Al Quran? Adapun terminologi ketiga “taqwa atau bertaqwa” adalah esensi dan tujuan utama diwajibkannya kaum beriman untuk berpuasa, yang oleh Allah disebut pada akhir ayat tentang perintah berpuasa: “agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.

Nampaknya keterikatan tiga terminologi itu terpusat pada Al Quran. Sebab puasa diwajibkan karena ada ayat al Quran dengan bentuk perintah (fiil amr) dalam surat al Baqarah ayat 183. Sementara karakteristik taqwa sebagai tujuan utama diwajibkannya berpuasa juga dengan sangat detail telah disebutkan oleh Al Quran.

Jika anjuran para ahli tafsir untuk menafsirkan Al Quran dengan mencoba mengkaitkan ayat al-Quran dalam satu tempat dengan ayat yang semakna di tempat lain (munasabatul ayat) diaplikasikan dalam melihat hubungan antara Al Quran, puasa dan taqwa, hubungan tersebut akan terlihat sangat signifikan.

Dalam awal surat Al Baqarah ayat 2-4, karakteristik orang yang bertakwa dan kaitannya dengan kewajiban berpuasa nampak jelas disebutkan. Ciri-ciri orang bertaqwa sebagai essensi berpuasa menurut al Quran adalah sebagai berikut:

Pertama, ciri orang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada yang ghaib (unseen matters). Nampaknya Tuhan memang mendesain puasa sebagai sarana latihan agar orang-orang yang beriman bertambah kepercayaannya kepada yang ghaib. Dan pusat keghaiban adalah Tuhan itu sendiri. Dengan keimanan kepada adanya Dzat yang ghaib yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Memperhatikan segala gerak-gerik manusia, seseorang secara tidak langsung dilatih untuk selalu berbuat baik. Ketika berpuasa, setiap orang beriman sedang di latih untuk menghadirkan yang ghaib “Tuhan” dalam segala ruang dan waktu (omni presents). Bukankah seseorang yang sedang berpuasa tatkala menyendiri di ruangan kantor, kamar yang terkunci atau tempat lain yang tidak dilihat orang bisa saja makan, minum dan berpura-pura bahwa dia sedang berpuasa ketika dihadapan orang banyak. Dengan adanya kesadaran kehadiran yang ghaib atau Tuhan (God consciousness) dalam diri orang yang berpuasa, kecenderungan untuk berbuat curang atau berbohong akan terhindarkan, dan semangat untuk selalu berbuat yang terbaik akan tumbuh karena ada kontrol sosial yang melekat dalam dirinya.

Kedua, orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu mendirikan shalat. Karakter taqwa ini pun dalam bulan puasa sedang digembleng oleh Allah. Di bulan puasa umat Islam bukan hanya dilatih untuk menjalankan shalat yang sipatnya wajib, bahkan shalat yang sunnah seperti shalat malam (tarawih) sangat dianjurkan di bulan ini. Harapannya, setelah puasa, fungsi shalat sebagai pencegah dari perbuatan keji dan munkar bisa direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari diluar ramadhan.

Karakteristik ketiga disebut orang bertaqwa adalah orang yang menafkahkan sebagian rizkinya. Di bulan ramadhan ini, anjuran untuk zakat, infaq dan shadaqah betul-betul ditekankah. Dengan menggandakan pahala yang berlipat-lipat, Allah sedang melatih keshalihan sosial seorang Muslim di bulan ramadhan. Dengan harapan kesadaran social menafkahkan harta untuk membantu fakir miskin terus dijalankan oleh orang Islam diluar ramadhan.

Keempat, disebut orang bertaqwa kalau seseorang mempercayai bahwa Allah telah menurunkan kitab suci kepada Muhammad (Al-Quran) dan kitab-kitab yang turun sebelum Rasul terakhir itu. Nampaknya Allah ingin melatih orang Islam di bulan ramadhan agar sadar akan adanya tuntunan hidup menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu Al-Quran. Membaca dan mempelajari al Quran sangat ditekankan di bulan ini. Kepercayaan akan adanya kitab sebelum rasul Muhammad, juga merupakan kepercayaan kepada yang ghaib.

Kelima, ciri orang bertaqwa yang disebut Al Quran adalah orang-orang yang mempercayai akan adanya hari akhirat. Ini berarti semakin menegaskan karakter pertama orang disebut taqwa yaitu percaya kepada yang ghaib. Bukankah kepercayaan adanya hari akhirat dan hari pembalasan juga termasuk kepercayaan kepada yang ghaib. Dengan keyakinan akan adanya hari akhirat, setiap Muslim diharapkan mempunyai semangat hidup yang optimis untuk selalu berbuat baik, dengan harapan memperoleh pula kebaikan ketika hidup kembali setelah kematian. Keimanan kepada hari akhirat juga mendorong manusia untuk optimis akan adanya keadilan yang hakiki, yaitu keadilan Ilahi. Manusia yang mempunyai keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian, tidak akan mensia-siakan kesempatan yang diberikan kepadanya, dan kecenderungan untuk bunuh diri yang sepertinya menjadi trends dalam menghindar dari masalah kehidupan yang kompleks di tanah air bisa dikurangi.

Akhirnya, di bulan ramadhan ini umat Islam diharapkan mampu mengkaji kembali makna puasa, al Quran dan taqwa. Dengan harapan proses latihan yang dilaksanakan pada bulan ramadhan ini bisa terefleksi pada bulan-bulan lainnya di luar puasa. Karakteristik orang yang bertaqwa seperti disebutkan Al Quran mudah-mudahan bisa digapai oleh umat Islam melalui puasa tahun ini dan bisa diaplikasikan diluar ramadhan. Bukankah kriteria orang bertaqwa yang diberikan oleh Allah merupakan kriteria manusia sempurna yang bisa menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan kriteria yang disebutkan Allah itu tidak pernah salah? Wallahu a’lam.



2 Responses to Al-Quran, Puasa dan Essensi Taqwa

  1. suciptojumantara says:

    Trimakasih. Artikelnya bagus dan bermafaat. mohon izin untuk jadi referensi. semoga jadi pahala yang tak pernah putus mengalir sampai liang lahat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: