Al-Qur’an dan Pendidikan Pluralisme

PR, 27/06/02

Kerusuhan yang hampir tiada henti di Indonesia, terutama di Ambon, mau tidak mau membuat peran tokoh agama dan nilai-nilai agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia yang pluralist-religious banyak dipertanyakan orang. Sebagai masyarakat religius yang mencantumkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai landasan utama hidup bermasyarakat, semestinya kerusuhan yang berbau sara tidak terjadi di Indonesia. Bukankah falsafah moral setiap agama mengajarkan manusia untuk saling hormat menghormati dan toleran. Ketika ternyata isu kerusuhan berbau sara terus berlanjut adalah wajar kalau nilai-nilai agama tentang toleransi dan pluralisme kembali diperdebatkan.

Untuk Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, pertanyaan tentang bagaimana Al-Quran berbicara tentang pluralisme dan toleransi agama, adalah sangat relevan. Kalau etika Al-Qur’an ternyata sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme dan toleransi, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah apa yang salah dengan praktek keagamaan kita? Apakah karena kesalahan interpretasi nilai agama ataukah karena transformasi nilai agama yang diajarkan oleh para agamawan kurang  bisa diterima oleh umatnya, sehingga nilai-nilai pluralisme dan toleransi tidak membumi. Beberapa pertanyaan diatas akan dicoba dijawab dalam tulisan ini.

Dasar-dasar Toleransi dan Pluralisme dalam al-Qur’an

Ide tentang pluralisme dalam Al-Quran sudah disebutkan sejak penciptaan manusia. Tuhan sebagai Dzat yang transenden menciptakan manusia dari sepasang laki-laki dan perempuan, dan dari keduanya dijadikanlah manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (QS 49:13). Jadi secara natural manusia diciptakan oleh Tuhan sangat variatif dan berbeda. Mengapa Tuhan sebagai Dzat yang Maha Tahu tidak menciptakan manusia dalam satu rumpun suku yang homogen? Selain untuk menguji manusia untuk berlomba-lomba menunjukkan usaha dan pengabdian terbaiknya kepada Tuhan di dunia yang plural, tujuan utama penciptaan manusia yang berbeda-beda adalah untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan saling memahami. Bukankah dengan adanya perbedaan mendorong manusia untuk bertanya, menganalisa dan mencoba berfikir keras untuk saling memahami.  Perbedaan juga menuntut manusia untuk saling mempromosikan harmonitas dan kerjasama. Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk yang berbeda bukan sebagai sumber perpecahan atau polarisasi masyarakat.

Al-Quran juga menekankan bahwa manusia di dunia, tanpa memandang perbedaan suku dan ras, disatukan dalam perlunya ketaatan mereka kepada satu Tuhan Sang Pencipta. Dalam ayat yang lain, Quran menekankan prinsip persatuan dalam perbedaan (unity in diversity). “Sungguh komunitasmu adalah komunitas yang satu dan Aku adalah Tuhan-mu, maka mengabdilah kepada-Ku (Qur’an 21:92). Penekanan tentang pesan Tuhan yang universal, bahwa tugas seluruh manusia adalah mengabdi kepada Tuhan, dengan jelas terrefleksi dalam Al-Qur’an. Al-Quran menyebutkan bahwa perintah pengabdian kepada Tuhan adalah pesan Tuhan kepada seluruh manusia, tak ada satu orang atau satu bangsa pun yang tertinggal (QS 35:24).

Al-Quran juga mengakui adanya umat sebelum Muhammad dan kitab suci mereka. Berulangkali Al-Quran mengkonfirmasikan bahwa kebenaran yang ada pada kitab-kitab sebelum Muhammad adalah datang dari Tuhan yang sama, dan Al-Quran adalah wahyu Tuhan terakhir yang bersifat penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya. “Katakanlah bahwa kami beriman kepada Tuhan dan kepada kitab yang diturunkan-Nya, kami juga beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub dan kami juga beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada Musa, Isa dan nabi-nabi yang lain. Kami tidak membuat perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya dan hanya kepada Allah lah kami beribadah  (QS 3:84). Lebih jauh Al-Quran menghormati dan mengakui adanya ahlul kitab, sehingga apabila ada keraguan pada diri Muhammad tentang penunjukkan dirinya sebagai Nabi dan Al-Quran sebagai wahyu, Muhammad dipersilahkan untuk bertanya kepada para Ahli Kitab (QS 10:94 dan 29:46). Dalam hal toleransi dan kebebasan beragama dengan jelas Al-Quran menyebutkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama (QS 2:256) dan dalam hal praktek keagamaan Al-Quran menyebutkan bahwa “untukmu agamamu dan untukku agamaku” (QS 109:6).

Penerapan nilai-nilai toleransi dan pluralisme Al-Quran sudah dicontohkan oleh Rasul Muhammad ketika pertama kali hijrah ke Medinah. Sejarah mencatat bahwa Muhammad bukan hanya mampu mendamaikan dua suku Aus dan Khazraj yang senantiasa bertikai, tetapi juga mampu menerapkan jargon “no compulsion in religion” terhadap masyarakat Madinah ketika itu. Tradisi toleransi beragama ini dilanjutkan oleh Khulafaur Rashidin pasca Muhammad wafat. Sebagai contoh, sejarah mencatat bagaimana Ali Bin Abi Thalib sangat menekankan dan menghargai kebebasan beragama ketika dia menjadi khalifah keempat. Dalam salah satu suratnya kepada  Malik al-Ashtar yang ditunjuk Ali menjadi Gubernur Mesir, dia mencatat: “Penuhi dadamu dengan cinta dan kasih sayang terhadap sesama, baik terhadap Muslim (saudaramu seagama) atau non-Muslim (sebagai sesama ciptaan Tuhan)”.

Melihat tingginya apresiasi Al-Quran terhadap nilai-nilai toleransi dan mengakui pluralisme sebagai tanda kebesaran Tuhan, mengapa mesti ada permusuhan antar agama? Tatkala teks sakral berkata tidak ada pemaksaan dalam agama, mengapa kita harus memaksakan kehendak kepada orang lain untuk mempunyai ideologi dan kepercayaan yang sama dengan kita? Ketika sejarah awal Islam merekam bagaimana Muhammad dan para sahabatnya menerapkan nilai-nilai toleransi dan semangat pluralisme dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, mengapa semangat itu seolah hilang di jaman sekarang ini?

Tafsir Ekslusif  dan Hegemoni

Dalam menurunkan nilai-nilai ideal yang ada dalam Al-Qur’an  untuk diaplikasikan di masyarakat, para agamawan (ulama) berusaha membuat interpretasi terhadap teks sakral tersebut. Karena setiap muslim scholars mempunyai latar belakang dan hidup dalam setting sejarah dan sosial budaya yang berbeda-beda, maka adalah wajar kalau hasil interpretasi terhadap kitab suci juga bervariasi. Dan dalam Islam variasi interpretasi adalah rahmat bagi kaum muslimin. Dalam sebuah hadits-nya rasul Muhammad mengatakan bahwa “barangsiapa berusaha keras dengan ilmunya untuk berijtihad dan salah maka dia mendapat pahala satu dan kalau ijtihadnya betul maka dia mendapat pahala dua”. Ini berarti bahwa variasi hasil ijtihad dan tafsir atas teks kitab suci, sejauh dilakukan dalam koridor yang bertanggung jawab dipandang syah dalam tradisi Islam. Tak heran kalau dalam hadits lain, Rasul Muhammad bersabda bahwa “ikhtilafu ummati rahmatun (perbedaan pendapat diantara umatku adalah rahmat). Hanya saja yang terkadang menjadi masalah adalah adanya ego dan truth claim bahwa interpretasi golongannya saja yang paling absah.

Penyebab hilangnya nilai toleransi dan pluralisme yang ditekankan Al-Quran paska Muhammad wafat dan para sahabatnya adalah sangat kompleks. Meskipun demikian Ali S. Asani (2002) menyebut bahwa salah satu penyebabnya adalah adanya dikotomi antara pendukung pluralisme Quran dan para penafsir anti pluralisme yang disebutnya sebagai kelompok exclusivist interpreters. Kaum eksklusif ini bertujuan memperoleh hegemoni baik dalam politik maupun agama.Untuk tujuan itu para penafsir eksklusif mengembangkan dua doktrin yang membuat nilai pluralisme yang diajarkan Quran semakin jauh dari apa yang di praktekan Muhammad dan para sahabatnya; kedua doktrin itu adalah superioritas dan legitimasi agama (the religious legitimation) untuk hegemoni politik.

Dengan dua doktrin diatas, penafsir eksklusif memandang bahwa Islam sebagai agama monotheis terakhir yang diturunkan Tuhan menggantikan seluruh wahyu Tuhan sebelumnya. Lebih jauh karena Islam adalah penyempurna tradisi Judaism dan Kristianiti, maka Quran adalah wahyu terakhir yang paling lengkap. Berdasar doktrin ini pula, penafsir eksklusif mengklaim bahwa hanya Al-Quran lah satu-satunya teks kitab suci yang valid sampai akhir zaman. Karenanya, kemungkinann untuk menggapai keselamatan selain lewat agama Islam adalah nonsen.

Penafsir eksklusif juga menafsirkan perintah jihad sebagai justifikasi agama untuk tujuan imperialism dan perluasan wilayah Islam. Padahal ada tafsiran lain yang memandang bahwa jihad bukan berarti berperang melawan musuh, kalaupun diartikan berperang adalah dalam rangka defensif mempertahankan diri. Bagi penafsir lain jihad diartikan sebagai usaha keras untuk memperjuangkan segala sesuatu atas nama Allah. Mencari nafkah, belajar dengan keras dan bahkan perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya juga dipandang sebagai berjihad.

Klaim penafsir eksklusif tentang hegemoni Islam atas agama monotheis lain, mendapatkan momentumnya ketika ideologi selain Islam seperti kapitalisme, komunisme dan sosialisme, telah gagal mengantarkan keadilan sosial dan ekonomi dibeberapa negara Islam. Dan hal ini bagi kalangan penafsir ekslusif semakin menguatkan mereka untuk kembali kepada nilai-nilai Islam yang “murni”. Bagi mereka penafsiran teks sakral Al-Quran bersifat monolitik.

Dengan klaim kebenaran dari kalangan penafsir ekslusif di atas dan seolah-olah tidak ada tawar-menawar dalam menafsirkan teks Al-Quran, lalu bagaimana kaum Muslimin sekarang bisa berpartisipasi dalam penegakkan kembali nilai-nilai toleransi dan pluralisme yang betul-betul dijunjung tinggi Muhammad di awal perkembangan Islam. Nampaknya salah satu solusi agar umat Islam di abad sekarang bisa berpartisipasi dalam peradaban dunia yang multi agama dan multi kultur adalah penting bagi intelektual muslim untuk betul-betul mempromosikan kembali pendidikan pluralisme. Selain perlu menggali nilai-nilai pluralisme dalam Al-Quran, intelektual muslim juga ditantang untuk terus mempromosikan doktrin bahwa variasi penafsiran teks adalah absah, penafsiran Al-Qur’an tidak bersifat monolitik, dan perbedaan penafsiran adalah ‘rahmat bagi umat Islam”.

Ketika pesan dan hasil penafsiran kalangan mufassir anti-pluralisme berkembang di madrasah-madrasah atau sekolah agama yang disponsori oleh kelompok penafsir eksklusif, salah satu kunci untuk memecahkan masalah anti pluralisme adalah mengajarkan kembali kepada masyarakat Muslim tentang toleransi dan pluralisme yang diajarkan oleh Al-Quran. Tanpa promosi dan partisipasi tokoh agama tentang pentingnya pendidikan pluralisme, banyak umat Islam yang akan mengira bahwa penafsiran monolitik yang dicoba di kembangkan oleh penafsir ekslusif adalah satu-satunya kebenaran. Kalau itu terjadi, jangan heran kalau konflik yang berbau sara akan terus tumbuh subur di negara-negara Islam, termasuk Indonesia. Wallahu a’lam.

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: