Persepsi Media Barat Tentang Islam

PR, 17/04/02 

Media massa adalah alat yang efektif untuk menyampaikan informasi dan membangun public image. Di era informasi global ini, setiap orang bisa mengakses informasi dengan sangat cepat, apalagi ketika masyarakat dunia sekarang sedang gandrung dengan apa yang disebut internet. Dengan fungsinya yang sangat efektif itu, media massa biasa digunakan oleh president, anggota parlemen, entertainers, activis politik atau bahkan rakyat biasa untuk menarik perhatian dunia. Media membawa pesan untuk disampaikan kepada publik, baik pesan itu berupa informasi yang benar ataupun hanya sekedar propaganda, yang jelas media massa mempunyai pengaruh yang kuat dalam membangun image masyarakat dunia.

Tatkala media massa mempunyai peranan besar di dunia modern, terutama di Barat, media jugalah yang menjadi sumber informasi utama tentang Islam baik itu ajaran, peradaban maupun masyarakatnya. Adalah media yang melaporkan bagaimana Ayatullah Khomeini terkenal di barat ketika memvonis hukuman mati bagi pengarang buku Satanic Verses Salman Rusdi. Juga media yang memberitakan bagaimana President Saddam Hussein dan Muammar Qadafi mengajak masyarakat Muslim dunia untuk menentang segala macam intervensi Barat terhadap masyarakat Islam Timur Tengah. Media massa juga yang menyebarkan berita di Barat bahwa pemboman di malam Natal 2000 di Indonesia dilakukan oleh sekelompok  Islam garis keras Indonesia. Dan Media pula yang mem blow up kejadian 11 September sebagai di dalangi oleh Osama bin Laden, meskipun belum jelas buktinya. Karena itu, masyarakat Barat pada umumnya belajar Islam dari berita-berita yang sampai kepada mereka tentang peradaban Islam dan sepak terjang masyarakatnya.

 
Tulisan ini mencoba mendiskusikan bagaimana media Barat cenderung memojokkan Islam dan kaum Muslimin. Bagaimana reaksi Muslim terhadap pemberitaan itu, baik respon positif maupun negatif. Terakhir, saya mencoba mengevaluasi dua respon tersebut untuk mencari kompromi produktif sebagai jalan keluar bagi kaum Muslimin mengahadapi serangan media Barat.

 

Image Islam di Media Barat

 

Media Barat pada umumnya cenderung memojokkan Islam. Setiap orang yang mempunyai akses TV, radio, internet, atau media massa lainnya bisa melihat bagaimana berita negatif tentang Islam selalu muncul dalam media Barat. Muslim sering di stereotype sebagai kelompok fundamentalist, konservatif, ekstrimist atau bahkan tak berperadaban. Dalam pandangan Prof Brasted, inilah yang disebut dengan politics of stereotyping.

 

Factor utama yang memberikan kontribusi terhadap jeleknya image Islam adalah kurang selektifnya media menggunakan kata-kata dalam memberitakan kaum muslimin. Media juga terkadang menjadi profit-seeking organizations yang sering membangun image yang salah dari satu realitas. Islam sering disajikan sebagai musuh bagi peradaban Barat. Terms umum yang sering dipakai dalam media Barat untuk memojokkan Islam adalah Muslim sebagai terrorist atau extrimist. Media juga yang mempunyai peranan sangat besar dalam membangun image bahwa semua masyarakat Muslim adalah fundamentalists.

 

Misconception lainnya yang sering muncul di media Barat adalah term jihad atau holy war dalam Islam. Image perang dan kekerasan menjadi dua kata kunci yang sering dihubungkan dengan Islam dalam media Barat. Jihad yang secara literal berarti berjuang keras atas nama Allah, sering disalahartikan oleh media Barat sebagai perang suci dimana kaum Muslimin dengan tanpa alasan membunuh orang non-Muslim. Arti jihad sebagai kerja keras untuk mendapat ridha Allah jarang sekali dipakai oleh media barat dalam melaporkan berita. Media sering menggunakan kata jihad keluar dari konteksnya dengan maksud untuk dijadikan propaganda dalam membangun image negatif tentang Islam. Media jugalah yang sering memberitakan dengan tidak akurat tentang konflik yang terjadi pada masyarakat Islam dan hak asasi wanita dalam Islam seperti wanita Islam adalah kaum sex nomor dua yang selalu harus di rumah dan juga wanita Islam adalah wanita yang harus memakai cadar sehingga tidak produktif kalau bekerja.

 

Media Barat tidak hanya menggunakan kata-kata dalam membangun image bahwa Muslim adalah kaum terrorist, fundamentalist dan extremist, mereka juga sering menggunakan “gambar” ketika memberi label muslim sebagai terrorist yang radikal. Sebagai contoh, cover majalah Time edisi October 2000 berisi gambar seorang tentara Muslim yang berpakaian jubah (pakaian shalat bagi tentara mujahiddin) sedang memanggul senjata. Di bawah cover itu tertulis: “gun and prayer go together.” Time Australia tanggal 15 June 1992 bercover gambar mesjid dan senjata yang sedang diacungkan. The Australian 24 may 1992, memasang cover gambar seorang pemuda muslim Arab sedang membawa bom bunuh diri, dan The Sydney Morning Herald pernah memuat caricatur Ayatullah Khomeini dengan tulisan di bawahnya “my right to kill you”. Pesan dari gambar-gambar itu sangat jelas yaitu untuk mengilustrasikan dan membangun image jelek Muslim sebagai terrorist dimata para pembacanya. Menurut Hartley dalam bukunya, The Politics of Picture, tak ada gambar yang bebas image, gambar bisa menyampaikan seribu makna tanpa bicara.

Karena salahnya stereotype yg di buat media Barat, kaum Muslimin sendiri akhirnya memandang media Barat sebagai musuh. Dalam pandangan sebagian besar muslim, media Barat adalah sesuatu yg mempunyai pengaruh negatif. Nampaknya pandangan seperti ini bukan tanpa dasar. Banyak alasan yang mendasarinya, antara lain banyak program TV yg seolah-olah memang ditujukan untuk membangun image jelek itu dan dengan bebasnya media Barat menempatkan Muslim sebagai kelompok yang berlabel criminal-culture.

 

Meskipun media Barat sering salah melaporkan atau misrepresent tentang Islam, tentunya tidak semuanya begitu. Sekedar menyebut contoh The Plain Truth Magazine, sebuah jurnal internasional di Amerika yang di terbitkan oleh Worldwide Church of God di California pernah menerbitkan laporan utamanya dg judul “Seeing the World through Islamic eyes” menyebutkan bahwa sekarang adalah waktunya untuk menghilangkan mitos dan salah persepsi tentang Islam dan melihat bagaimana Bible berbicara tentang Islam. Jurnal Economist terbitan 31 Mei 1997 juga pernah menerbitkan artikel dg judul: “Islam’s Many Faces”. Tulisan ini menjelaskan bagaimana Islam mempunyai “wajah” yg berbeda-beda di setiap negara, masing-masing negara mempunyai interpretasi tersendiri tentang Islam. Pesan tulisan ini jelas bahwa para pembaca harus melihat bagaimana nilai-nilai Islam ditafsirkan di berbagai negara sebelum membuat kesimpulan  atau image tentang Islam. Sikap extrimism atau fundamentalism yang dilakukan oleh seorang muslim di suatu negara misalkan, tidak bisa dijadikan dasar untuk membuat kesimpulan bahwa setiap Muslim adalah extrimis. Sama halnya dengan  perumpamaan, Hitler adalah seorang Kristen, tapi tidak berarti bahwa setiap kelakuan Hitler adalah didasari oleh kepercayaan Kristen. Untuk mencap Jerman sekarang sebagai anti-Semit karena kejadian sejarah Nazi Jerman empat puluh tahun yang lalu tentunya adalah salah. Begitu juga dengan Islam dan Muslim, kita harus membedakan antara prilaku seorang Muslim dengan ajaran Islam itu sendiri.

 

Setelah melihat bagaimana Media barat mendeskripsikan Islam, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana pandangan Muslim itu sendiri terhadap media Barat?

 

Respon Muslim terhadap Media Barat

 

Paling tidak ada dua reaksi yang muncul ketika Muslim memandang media Barat; positif dan negatif. Salah satu respon positif terhadap media Barat adalah banyak kalangan Muslim yang menerima budaya Barat dengan taken for granted, bahkan tanpa banyak berpikir. Apa yang datang dari Barat, bagi golongan ini adalah modern dan harus di tiru. Sekedar mengambil contoh, Friday Times dan Herald, dua-duanya jurnal mingguan di Pakistan sangat menerima bahkan ikut mempromosikan apa yang  dilaporkan oleh media Barat baik itu jargon maupun ide, sehingga jargon Fundamentalist pun mereka pakai untuk memberikan label pada Muslim fundamentalist di Pakistan. Bahkan dalam bidang entertainment seperti komentarnya tentang Madonna dan Michael jakson menempati porsi yang lebih dari wajar pada dua media ini. Reaksi negatif, pada sisi lain, masih mengambil kasus di Pakistan, datang dari Partai politik  Jamaat Islami . Mereka dengan keras bereaksi bahwa kalau sampai Madonna atau Michael Jackson diundang ke Pakistan, mereka akan menyerang kebijakan-kebijakan pemerintah, bahkan dengan nada emosi salah seorang anggota organisasi ini berkata, jika sampai dua artis popular di Amerika itu menginjakkan kaki di Pakistan akan dia patahkan kakinya. Menanggapi dua reaksi positif dan negatif di atas, Akbar S. Ahmed dalam Postmodernism and Islam: Predicament and Promise mencoba membuat kompromi. Baginya, masyarakat Muslim harus belajar bagaimana menggunakan media sebagai alat untuk mempromosilkan ide dan image tentang kultur dan peradaban Islam. Barat dan Islam harus saling mencari titik persamaan dan saling pengertian, misinformasi dan misunderstanding yang ada sekarang ini harus terus diusahakan untuk dieliminir. Sebagai usaha untuk mereduksi kesalahpahaman diantara Barat dan Islam, adalah penting bagi kaum Muslimin untuk mendiskusikan mengapa media Barat sering membuat image tentang Islam secara negatif. Masyarakat Muslim perlu bertanya apakah media Barat itu  sedang propaganda anti Islam atau hanya sekedar murni berita, atau ada motif lain? Apakah reaksi negatif dari kalangan Muslim itu bisa mengubah image negatif tentang Islam di barat?

 

Sejarawan Robert Darnton  pernah menjelaskan tentang adanya tulisan di dinding salah satu ruangan kantor New York Times yang menulis : “All the news that Fits we print”. Salah satu makna tulisan itu adalah bahwa  sebuah artikel bisa dimuat di koran atau majalah jika ada ruang yang pas untuk artikel itu dan tulisannya marketable. Berkenaan dengan berita keagamaan, harus dipahami bahwa media massa terkadang melihat kesempatan yang baik untuk menjual berita tentang agama kepada para pembacanya. Karenanya sangat syah untuk berasumsi bahwa issue komersil adalah salahsatu motif media Barat mem blow-up pemberitaan tentang Islam dan masyarakatnya. Jangan lupa juga bahwa pada kenyataannya Islam adalah salah satu agama yang sangat pesat pertumbuhannya di Barat. Karenanya sangat masuk akal ketika media mempublish issue-issue controversial tentang Islam, mereka bermaksud menarik pembaca, baik itu Muslim atau non-Muslim, untuk membaca dan membeli berita. Sebagai contoh, ketika kejadian 11 september the new York World Trade Centre di bom, media massa sangat berkepentingan untuk menjual berita dan teroris Islam disalahkan. Ini berarti bahwa pemboman itu adalah berita besar dan akan semakin dahsyat jika media mengaitkannya dengan sebuah kelompok Muslim.

 

Motif lain media massa Barat  membuat image negatif tentang Islam adalah politik. Konflik Israel-Palestina, perang teluk dan juga revolusi Islam di Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khoemeini secara langsung atau tidak langsung mempunyai kontribusi dalam mendorong media massa Barat untuk menulis tentang Islam. Meskipun pejabat pemerintah Amerika sering membantah tentang adanya hubungan antara image negatif di media massa Barat dan kebijakan pemerintah USA, ketakutan terhadap Islam tetap ada di Amerika dan negara Barat lainnya. Oleh karena itu, masyarakat Muslim diharapkan tidak berasumsi bahwa media Barat suka membuat image negatif tentang Islam dikarenakan orang Barat anti-Muslim atau benci terhadap Islam itu sendiri. Bisa jadi media Barat hanya ingin menjual isu kontroversial tentang Islam dan secara kebetulan juga sang reporter tidak mempunyai pemahaman yang memadai tentang Islam. Atau bisa jadi juga adanya para pemimpin Muslim itu sendiri yang memberi kontribusi jeleknya image Islam di barat ketika mereka dengan suara keras menyalahkan budaya Barat. Akhirnya, apapun reaksi masyarakat Muslim, positif atau negatif, kita harus juga mempertimbangkan factor politik, ekonomi atau faktor lainnya sebelum menjudge bahwa ada perang antara media Barat dan Muslim. Lalu muncul pertanyaan bagaimana cara mengkompromikan dan membantu saling memahami antara Islam dan media Barat?

 

Bagaimana Jalan Kompromi?

 

Untuk memecahkan masalah “perang” antara Islam dan media Barat, Akbar S Ahmed (1992) mengajukan solusi produktif yang dia sebut “building bridges”. Dia mengatakan bahwa usaha menjembatani harus datang dari dua belah pihak. Pertama, media massa Barat perlu bersikap balance dan mengerti posisinya. Penggunaan kata-kata yang tidak pada tempatnya seperti “fundamentalism, ekstremism atau terrorism” harus dihindari oleh media. Sebagai gantinya barangkali akan lebih bijak kalau media menggunakan kata “revivalist” atau term-term lain yang lebih netral ketimbang term fundamentalist. Kedua, perlunya lebih banyak kaum Muslim yang tampil di media Barat baik itu di film, TV, talk show dan lain-lain. Dengan maksud untuk memberikan pengertian yang sebenarnya tentang Islam atau untuk mengkounter kesalahan image yang di buat oleh media itu sendiri tentang Islam. Kaum Muslimin juga perlu bertanya apakah reaksi negatif yang dilakukannya untuk menentang media Barat akan mengubah image negatif tentang Islam di mata masyarakat Barat. Barangkali akan lebih produktif bagi kaum Muslimin untuk bereaksi dengan cara memberikan informasi yang proporsional tentang Islam di media Barat seperti koran, majalah, radio, TV atau bahkan internet ketimbang bereaksi secara emosional dan menyalahkan media Barat sebagai musuh.

 

Alternatif lain adalah mengajarkan Islam di sekolah-sekolah dasar di Barat, sehingga anak-anak di Barat tidak terlalu asing dengan ajaran Islam. Kelompok-kelompok muslim terdidik di Barat barangkali bisa memainkan peranan ini sebagai educator dan fasilitator, menjelaskan  perbedaan tradisi yang ada di masyaralkat Muslim dan tradisi yang ada di Barat. Sebaliknya nilai-nilai Barat seperti demokrasi, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan juga perlu diajarkan pada anak-anak Muslim di sekolah-sekolah, sehingga masyarakat muslim sendiri tidak bersterereotipe dan hanya tahu bahwa Barat adalah agent free sex, minuman keras dan kekerasan. Terakhir, karena media massa adalah sumber informasi utama bagi masyarakat Barat, adalah penting bagi masyarakat Islam untuk berpartisipasi aktif dalam menyajikan informasi tentang Islam di media Barat. Usaha kaum Muslimin itu akan mempunyai dampak positif bagi media massa. Adalah akan sangat menarik kalau kita bisa menyaksikan bagaimana image baru yang positif tentang islam dan masyarakatnya terbentuk pada media barat di masa yang akan datang. Di lain pihak media Barat juga diharapkan untuk melihat dan melaporkan tentang islam secara obyektif, sehingga media massa Barat tidak hanya menyajikan berita jelek tentang Islam padahal hanya dilakukan oleh segelintir Muslim dan terlalu mengeneralisir. Para reporter media Barat juga perlu belajar tentang Islam dan perlu sadar bahwa steretotipe jelek yang mereka buat tentang Islam adalah salah. Sejauh masyarakat Barat belajar Islam dari media yang betul-betul obyektif, saya kira mereka juga akan menerima Islam dengan baik. Kalau ini bisa di wujudkan, ke khawatiran adanya Clash of Civilization, seperti di khawatirkan Huntington, tidak perlu terjadi. Wallahu a’lam.

 

One Response to Persepsi Media Barat Tentang Islam

  1. mira says:

    a’kom…
    m..apakah yang dimaksudkan dengan penghinaan tentang islam oleh media massa barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: