Islam, Radikalisme dan Kemiskinan

PR, 04/05/02

Tragedi penyerangan The New York Trade Centre 11 September 2001 di Amerika membuat wacana tentang Islam dan radikalism kembali menghangat dibicarakan. James A. Beverley bahkan mempertanyakan kembali apakah betul Islam agama perdamaian dengan menulis “Is Islam a religion of peace? The controversy reveals a struggle for the soul of Islam” dalam jurnal Christianity Today, Jan 7, 2002.

Beverley mencoba mengajukan tiga kemungkinan interpretasi terhadap kejadian September 11. Pertama, adanya pandangan bahwa aksi teroris itu bukanlah representasi Islam. President Bush mengamini pandangan pertama ini dengan mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Pandangan Bush ini juga di dukung oleh Yusuf Islam (mantan penyanyi rock Cat Stevens yang sekarang ikut gencar mempromosikan pendidikan Islam di Inggris). Kepada London Newspaper Yusuf Islam berkata: “Tidak hanya pesawat yang di bajak oleh teroris itu, tapi juga mereka membajak keindahan Islam”. Asumsi kedua, terror 11 september itu adalah pekerjaan orang-orang radikalis dan militant Muslim.

Salman Rusdhi, penulis Satanic Verses, menulis di The New York Times: “Jika bukan radikalis Muslim, mengapa banyak demonstrasi di seluruh dunia yang mendukung Osama bin Laden dan Al-Qaida? Mengapa 10000 orang bersenjata pedang di perbatasan Pakistan-Afghanistan siap berjihad menyambut seruan mullah?” Asumsi ketiga berpendapat bahwa kejadian 11 september adalah representasi dari Islam yang autentik yang diadopsi oleh Osama bin Laden dan para pengikutnya. Osama pada Pebruary 1998 pernah mengatakan bahwa: “membunuh orang Amerika dan sekutunya adalah kewajiban bagi seluruh muslim di seluruh dunia”. Ucapan inilah salah satunya yang membuat Amerika yakin bahwa kejadian itu adalah pekerjaan Osama bin Laden.

Lepas dari setuju atau tidak terhadap asumsi yang di ajukan Beverley di atas nampaknya asumsi kedua yang mengatakan bahwa kejadian 11 september adalah pekerjaan orang-orang radikalis cukup representatif, meskipun sampai sekarang mistery sebenarnya siapa yang mendesign dan mempunyai kepentingan besar dalam tragedy itu belum terpecahkan. Sayang image media telah di bangun dan nampaknya Muslim ada dalam posisi yang sangat dirugikan.

Kejadian 11 September telah mendorong negeri Paman Sam untuk terus memburu para terrorist dan radikalis hampir di seluruh dunia, terutama di negara-negara Islam. Meskipun kaum radikalis dan fundamentalis yang fanatik tidak hanya muncul dalam tradisi agama Islam, kajian-kajian tentang akar fundamentalism dan radikalism sekarang, terutama di media Barat lebih melihat pada radikalism dan fundamentalism dalam Islam. Pertanyaan yang muncul adalah, seandainya betul bahwa sekarang fundamentalism agama, seperti nampak dari ulasan para sarjana Barat, sedang menjamur di dunia Islam, lalu apakah yang mendorong timbulnya radikalism itu? Betulkah asumsi bahwa radikalisme sangat erat kaitannya dengan kemiskinan? Tulisan ini akan mencoba melihat hubungan antara radikalism dan kemiskinan.

Radikalism dan Kemiskinan: Sebuah Asumsi

Daniel Pipes pernah menulis dalam The National Interest, Winter 2001 yang menganalisa tentang radikal Islam hubungannya dengan kemiskinan. Pipes mencatat banyak Muslim sekuler yang berpendapat bahwa Muslim militant dan radikal muncul karena kemiskinan. Diantaranya Suleyman Demirel, mantan president Turki mengatakan: “Selama di dunia ini masih ada kemiskinan, inequality, ketidakadilan dan system politik yg repressive, maka radikalism akan terus berkembang di dunia.” “Pertumbuhan ekonomi bisa menyelesaikan segala masalah, termasuk gerakan Muslim militant”, demikian Tansu Ciller. Pimpinan intelegent Islam Jordania juga berpendapat: “tatkala manusia berada pada posisi ekonomi yg mapan, punya pekerjaan, dan bisa menghidupi keluarganya dg baik, maka semua masalah termasuk masalah Muslim militant di Timur Tengah akan bisa diselesaikan.

Assumsi bahwa penyebab radikalisme adalah karena kemiskinan juga muncul di kalangan politisi Barat. Mantan President Amerika Bill Clinton berkata: ”akar gerakan Muslim militant ada pada semakin memburuknya kondisi sosial-ekonomi di masing-masing negara”. Martin Indyk, seorang diplomat AS juga memperingatkan bahwa “siapapun yang ingin mengurangi bahaya Muslim militan harus terlebih dahulu memecahkan masalah ekonomi, sosial dan politik yang menyebabkan gerakan itu menjamur”. Mantan Perdana Mentri Israel, Simon Pers berkata: “dasar fundamentalisme adalah kemiskinan”.

Tetapi kalau dilihat dari realitas yag ada, kata Pipes, hanya sedikit korelasi antara munculnya Muslim militant dan ekonomi. Dia mengutip beberapa bukti tentang thesisnya. Seorang Ilmuan Sosial Mesir, Saad Eddin Ibrahim, pernah mengadakan study dengan menginterview para tahanan yang termasuk kelompok fundamentalis di mesir, dia kaget ketika menemukan kenyataan bahwa umumnya para tahanan itu adalah anak-anak muda (usia 20 an tahun), yang berlatar belakang ekonomi bagus, punya motivasi tinggi, dan latar belakang pendidikan tinggi baik engineer atau ilmuan social. Dalam temuannya, Ibrahim berkesimpulan bahwa para pemuda itu secara umum adalah diatas rata-rata pemuda di generasinya, baik ekonomi maupun pendidikan. Bahkan mereka rata-rata adalah pemuda-pemuda ideal Mesir. Ibrahim juga menemukan bahwa dari 34 anggota radikal Islam “At-Takfir wa Al-Hijra’ yg di tahan, 21 orang diantaranya adalah berasal dari keluarga kelas menengah.

Intelegent Canada juga akhir-akhir ini menemukan bukti bahwa pemimpin-pemimpin group militant Islam ‘Al-Jihad” rata-rata berlatarbelakang ekonomi kelas menengah dan berpendidikan tinggi. Begitu juga Galal A. Amin, seorang ahli ekonomi di American University di Cairo, mengatakan bahwa tak ada hubungan sama sekali antara gerakan militant Islam di Mesir dengan status ekonomi atau kemiskinan. Tidak hanya organisasi, adanya Muslim militant yang bersipat individu juga bukan karena kemiskinan, sebagai contoh orang-orang Palestina yang rela melakukan bom bunuh diri ternyata juga berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi yang mapan dan berpendidikan tinggi, bahkan juga para pengikut Osama Bin Laden. Fathi ash-Shiqaqi, tokoh pendiri “Islamic Jihad”, suatu hari pernah berkomentar: “Para pemuda yang berkorban dalam operasi “terorisme” datang dari keluarga mapan dan mempunyai karir yang sukses di universitas. Martin Kramer, editor the Middle East Quarterly, bahkan lebih jauh melihat bahwa group Muslim militant adalah kendaraan yang digunakan oleh sekelompok orang, yang dengan pendidikan tinggi dan keuangan yang mapan yang seharusnya menjadi kelompok elite tetapi tersisihkan dari suatu kelompok .Kramer menunjuk Anatolian Tigers, seorang businessmen yang mempunyai peran banyak dalam memback up partai Militant Islam di Turkey sebagai contoh.

Thesis bahwa penyebab radikalisme bukan kemiskinan juga bisa diterapkan ketika kita melihat suatu masyarakat atau negara dalam arti luas. Pipes menunjuk empat proposisi: Pertama, Kekayaan ternyata tidak bisa mengerem militant Islam. Contoh penduduk Kuwait yang senang dengan gaya hidup Barat dan berlimpah kekayaan, ternyata parlemennya tetap dikuasai oleh Muslim militant. West bank lebih kaya dari penduduk di jalur Gaza tetapi militant Islam lebih berkembang di West Bank ketimbang di Jalur Gaza. Militant Islam juga subur tumbuh di negara anggota European Union dan Amerika Utara, dimana Masyarakat Muslimnya mempunyai standard hidup yang tinggi di banding rata-rata penduduk muslim lainnya. Khalid Duran bahkan mengatakan bahwa “di Amerika, perbedaan antara Muslim biasa dan Muslim Militant adalah perbedaan antara yang miskin dan yang kaya. Muslim biasa punya jumlah yang banyak, Muslim militant punya dollar yang banyak.”

Kedua: Kemajuan ekonomi juga tidak bisa mematikan munculnya radikal Islam. Contoh, gerakan militant Islam saat ini juga salah sartunya disebabkan karena meledaknya harga minyak di tahun 70 an. Contoh, Muammar Qadafi, group Fanatik di Arab Saudi, juga Ayatullah Khomeini di Iran. Begitu juga di tahun 1980 an ketika di Jordan, Maroko dan Tunisia ekonomi mereka Maju, Islam Militant juga tumbuh subur. Turki, di bawah Turgut Ozal merasakan nikmatnya pertumbuhan ekonomi dan jumlah militant Islamnya bertambah.

Ketiga, Kemiskinan ternyata tidak mendorong munculnya Militant Islam. Banyak negera Islam yg miskin tapi hanya sedikit yg menjadi sarang militant Islam, tidak Bangladesh, tidak Yaman atau juga Nigeria. Seorang ahli Amerika berkata: Jika Militant Islam berhubungan dengan kemiskinan mengapa Militant Islam di Timur Tengah tidak lebih kuat ketika mereka masih lebih miskin dari sekarang beberapa abad yang lalu.

Keempat: Kemunduran Ekonomi tidak memicu tumbuhnya Militans Islam, dia mencontohkan crisis tahun 1997 di Indonesia dan Malaysia. Iran, yang ekonominya menurun drastis lebih dari setengahnya sejak pertama kali revolusi Islam di gulirkan tahun 1979, ternyata masyarakatnya lebih mendukung regim yang demokratis ketimbang yang militant.

Jika kemiskinan adalah penyebab militant Islam maka seharusnya pertumbuhan ekonomi menjadi solusi, tapi ternyata tidak. Jika kemiskinan bukan penyebab munculnya Militan Islam, maka argument selanjutnya yang muncul adalah:

Pertama, kemakmuran tidak bisa dilihat sebagai solusi Militant Islam dan bantuan luar negeri tidak bisa dijadikan alat untuk membantu menumpasnya. Kedua, Westernisasi juga tidak bisa dijadikan solusi. Sebaliknya banyak pemimpin Militant Islam yang bukan hanya familiar dengan gaya hidup Barat, sebagiannya bahkan mempunyai gelar dan ahli dalam teknologi dan ilmu pengetahuan. Bahkan kadang-kadang Westernisasi juga menjadi jalan untuk membenci Barat.

Karenanya, bisa jadi adalah sebaliknya bahwa Militant Islam lahir karena kemakmuran bukan disebabkan oleh kemiskinan. Ini sangat mungkin, karena ada fenomena yang universal bahwa manusia akan semakin aktif secara ideology dan politik ketika dia telah mencapai standard hidup yang cukup tinggi. Revolusi biasanya terjadi tatkala orang-orang di kelas menengah exist. Birthe Hansen, seorang associate professor di University of Copenhagen pernah menulis: ‘perkembangan pasar bebas kapitalisme dan democracy liberal boleh jadi sebagai faktor penting tumbuhnya Islam politik.. Karena nampaknya bukan karena kemiskinan, maka alangkah baiknya kita tidak hanya melihat faktor ekonomi sebagai penyabab radikalisme Islam. Osma Bin laden pernah menyindir bahwa “ karena Amerika menyembah uang, mereka yakin bahwa orang lain juga berpikir sama. Khomeini pernah berkata: Kita tidak menggadaikan revolusi hanya seharga buah melon. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: