Anggaran Pendidikan Kita: Belajar Dari Virginia

MI, 24/04/02

BELUM lama ini kita mendapat angin segar tentang rencana wakil-wakil rakyat di MPR, terutama Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR yang telah mencoba merumuskan kesepakatan amendemen UUD 45 tentang dana pendidikan. Dalam rumusan itu disebutkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi penyelenggaraan pendidikan (Media 8/4).

Meskipun rencana itu baru rumusan dan ditanggapi pesimistis oleh Mendiknas Malik Fajar tentang sulitnya memenuhi angka tersebut, bagi kalangan akademisi hal itu merupakan terobosan baru, adanya kemauan politik dari para wakil rakyat tentang perlunya peningkatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.Dicantumkannya angka 20% dari APBD berkaitan dengan program otonomi daerah, yaitu daerah mempunyai kewenangan luas untuk mengatur keluar masuknya anggaran pendidikan.

Dalam kondisi ekonomi negara yang belum bangkit dari krisis, tampaknya kekhawatiran Pak Menteri cukup beralasan. Tapi, apakah betul bahwa kita tidak mempunyai cukup dana hanya sekadar untuk menaikkan anggaran sampai 20%?Bagaimana dengan program otonomi daerah, apakah daerah juga pesimistis menyisihkan 20% bagi dana pendidikan di APBD-nya?

Dengan kewenangan pemerintah daerah menentukan anggaran pendidikannya, saya teringat dengan kasus yang terjadi di salah satu negara bagian di Amerika Serikat, Virginia, tentang kekhawatiran turunnya dana pendidikan pasca-Tragedi 11 September. Pemerintah daerah setempat memprediksi bahwa di akhir tahun anggaran 2002, anggaran pendidikan mereka akan turun sekitar 1,5 miliar dolar. Padahal, anggaran pendapatan dan belanja daerah tersebut termasuk rendah di Amerika. Virginia menempati urutan ke-15 dalam hal pendapatan per kapita di antara negara-negara bagian di Amerika. Daerah ini juga merupakan negara bagian yang menduduki urutan ke-45 dalam hal alokasi dana bagi pelayanan pendidikan umum.

Melihat prediksi seperti itu, seluruh komponen di Virginia merasa terpanggil untuk menyelamatkan dana pendidikan sebagai investasi jangka panjang pembinaan sumber daya manusia yang akan berpengaruh bagi keadaan Virginia secara keseluruhan di masa yang akan datang. Untuk itu, seluruh warga sepakat untuk memulai kampanye dengan apa yang disebut dengan The Brighter Futures yang disponsori oleh Dinas Pendidikan Daerah.

Kampanye ini dimaksudkan untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam bujet pemerintah daerah setempat, bagaimanapun sulitnya kondisi ekonomi negara.Seluruh anggota eksekutif di sana, mulai dari gubernur sampai Kepala Dinas Pendidikan Daerah mengampanyekan sebuah seruan, baik kepada pers maupun politikus, “Virginia has raised standard for students achievement, but not the standards for funding that achievement.”

Kepala program itu mencoba mempromosikan lima langkah untuk menyelamatkan dana pendidikan.

Pertama, melakukan riset tentang perlunya pendidikan hubungannya dengankebangkrutan ekonomi dan merosotnya tingkat kemakmuran masyarakat karena merosotnya kualitas pendidikan.

Kedua, publikasi hasil riset melalui media setempat; dengan pesan bahwa ‘meningkatnya kualitas pendidikan, kualitas guru, dan anak didik mensyaratkan tingginya bujet pendidikan’.

Ketiga, melibatkan politikus, terutama kandidat anggota DPRD. Media masa setempat mendorong rakyat yang akan memilih pada pemilu mendatang untuk bertanya kepada calon anggota DPRD tentang apa yang akan dilakukan kalau terpilih menjadi anggota dewan untuk membawa masa depan pendidikan anak-anak Virginia, dan dengarkan dengan baik, apa jawaban mereka.

Keempat, meminta pemimpin lokal daerah untuk membeberkan hasil riset di hadapan policy maker. Kelima, mengajak sponsor swasta untuk investasi dalam bidang pendidikan.

Dari kasus pemerintah daerah Virginia tersebut di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Pertama, masalah pendidikan adalah masalah bersama, tidak hanya pemerintah, tapi juga komponen masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan bukan hanya urusan Mendiknas, gubernur, dan kalangan eksekutif lainnya, tapi pendidikan juga perlu perhatian dari kalangan legislatif, pers, ekonom, dan rakyat secara keseluruhan. Meskipun demikian, pemerintah tetap harus menjadi motor penggerak.

Kedua, rakyat secara langsung didorong untuk berpartisipasi aktif mempertanyakan apa yang akan diperbuat oleh calon pemimpin di daerahnya, dalam hal ini apa yang akan diperbuat mereka untukpendidikan ketika sang calon berkampanye.Di sini rakyat didorong untuk menjalankan pilihan bebas dan memperdebatkan hal-hal yang akan memengaruhi hidup mereka, membantu menjadi warga Negara yang lebih baik dan mempersiapkan diri untuk memainkan peran dalam membentuk masa depan bangsa mereka sendiri. Dengan kata lain, rakyat diberi pendidikan bagaimana cara berdemokrasi.

Ketiga, riset adalah salah satu kunci mencari solusi, benarkah pemerintah pusat tidak akan mampu menyediakan 20% dari APBNatau pemerintah daerah dari APBD? Tampaknya setiap pemerintah daerah akan sangat bijak kalau mampu mengadakan riset yang cukup bertanggung jawab untuk melihat dan mencari kemungkinan solusi bagi pemenuhan angka 20% tersebut.
Kalau semua komponen yang ada di masing-masing daerah dan betul-betulconcern terhadap pendidikan, tampaknya angka itu tidak terlalu sulit untuk dicapai. Mencontoh kasus Virginia, sulitkah kita meyakinkan investor swasta di daerah untuk menginvestasikan dananya dalam bidang pendidikan.

Keempat, perlunya peran pers yang lebih progresif untuk menyosialisasikan pentingnya pendidikan bagi investasi jangka panjang demi kemajuan bangsa kita.

Angin segar telah dihembuskan oleh para wakil rakyat di MPR. Jika semuakomponen bangsa memainkan perannya untuk mendorong majunya pendidikan;ekonom, politikus, eksekutif, legislatif, insan pers, dan seluruh lapisan masyarakat mempunyai visi yang sama, tampaknya pesimisme Pak Menteri tidak perlu terjadi. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: